Game It Takes Two yang Bikin Nangis Sekaligus Tercengang

It Takes Two

It Takes Two terkenal bukan hanya karena teka‑teki kooperatifnya, tetapi juga karena rangkaian adegan yang tiba‑tiba mengaduk emosi pemain. Game karya Hazelight ini piawai membuat kita tertawa satu detik, lalu terhenyak di detik berikutnya. Berikut tiga momen yang paling menyentuh sekaligus mengejutkan, lengkap dengan alasan mengapa tiap adegan begitu membekas di ingatan.

Boneka Ratu yang Tak Berdaya

Salah satu adegan paling kontroversial terjadi di level istana mainan ketika Cody dan May terpaksa “menjatuhkan” Queen Cutie, boneka gajah kecil yang ceria. Tujuan mereka sederhana: memicu air mata sang putri agar mantra pernikahan terangkat. Namun prosesnya jauh dari lucu.

Ketika Cutie memohon agar tidak disakiti, pemain mendadak dihadapkan pada dilema moral yang sulit dihindari karena desain level memaksa melanjutkan. Jeritan lembut Cutie, animasi terbelah-belahnya, hingga tarikan tangan mungilnya di rel mainan membuat banyak pemain terdiam atau bahkan menutup mata. Di sinilah It Takes Two menunjukkan keberanian naratif: momen kekerasan emosional yang justru dipakai untuk menyoroti rasa egois Cody‑May, sekaligus memancing simpati pemain kepada karakter non‑manusia.

Konfrontasi dengan Moon Baboon

Tidak kalah mengejutkan, pertempuran bos di observatorium antara pasangan protagonis dan mainan kesayangan Rose, Moon Baboon, berubah dari humor ke tragedi ringan. Awalnya pertarungan terasa seperti platformer klasik, tembakan laser, lintasan antariksa, dan gravitasi aneh.

Namun setelah Moon Baboon dikalahkan, mainan itu justru memohon kepada Cody dan May untuk “menjaga Rose”. Adegan ini mematahkan ekspektasi boss fight biasa; penonton tiba‑tiba melihat versi “orang tua” dari mainan yang benar‑benar peduli. Pesan moralnya jelas: pertikaian Cody‑May merembet pada hal-hal yang Rose cintai, bahkan pada teman imajinernya sekalipun. Dampaknya emotif dan mengingatkan pemain bahwa keretakan rumah tangga selalu memiliki korban tak tampak.

Kepingan Kenangan di Snow Globe

Level Snow Globe menyuguhkan kilas balik romantis Zeus 99 saat Cody dan May pernah bersenang‑senang di kota salju. Salju yang tenang dipadukan dengan musik nostalgia dan lampu kota membuat atmosfer hangat sekaligus sedih; pemain melihat betapa indahnya hubungan mereka sebelum retak. Tidak ada bos besar atau jump‑scare hanya keheningan lembut yang tiba‑tiba memancing rasa rindu dan penyesalan.

Penutup

Dari tragedi Queen Cutie hingga pengakuan menyentuh Moon Baboon dan nostalgia Snow Globe, It Takes Two membuktikan bahwa game co‑op bisa menjadi wadah cerita emosional yang dalam. Ketiga momen di atas bukan sekadar plot twist; mereka menegaskan betapa pentingnya empati, komunikasi, dan pengorbanan dalam hubungan apa pun. Jadi, saat kamu (re)memainkan It Takes Two, bersiaplah: di balik puzzle ceria, ada pelajaran hidup yang mungkin membuatmu meneteskan air mata.